Kamis, 25 Oktober 2012

Somewhere Else

Berenang mengapung memandang langit biru. Melihat sepintas burung camar lewat untuk terbang menuju daerah lain. Awan-awan ringan bergerak perlahan ketika tertiup angin. Kurasa memang setiap detik mereka bergerak. Nun tinggi disana, lebih banyak angin dari pada di bawah sini tapi disana oxigen adalah sesuatu yang berharga. Kurasakan air laut yang membuat bagian punggungku merasakan sensasi sejuk. Sangat kontras dengan apa yang ada di bagian depan tubuhku. Panas. Terbakar. Silau. Kuputuskan untuk kembali berenang. Entah kenapa, setiap aku melihat ayah, disana ada perasaan itu lagi. Perasaan itu kembali lagi. Perasaan kehilangan yang amat dalam. Aku kasihan pada ayah. Ia sendirian. Tapi tidak selamanya sendirian. Setelah Sheila meninggal, aku jarang menghibur ayah. Aku sibuk dengan sekolahku dan ayah juga sibuk dengan pekerjaannya. Pernah, satu hari kami tidak bertemu. Tatap langsung antara mata dengan mata pun tidak. Aku bukan gadis baik. Aku tidak bisa seperti Sheila. Tapi aku bukan Sheila. Aku berbeda. Aku Elsie, bukan Sheila. Drew menyadarkanku dari dunia itu. Kuberi ia senyuman sebagai tanda aku baik-baik saja. Ia pun membalas senyumku. Lalu bermain dengan yang lain.

Beberapa saat kemudian, aku masih mengapung. Drew mengagetkanku lagi.

"Kau mau lihat ini?" kata Drew.

"Apa?"

Ia mengeluarkan kalung berliontinkan jam jaman dulu yang ia genggam sebelumnya. Bentuknya lumayan kecil. Emm bisa dibilang sedang.

"dimana kau menemukannya?" tanyaku.

"Ada di dasar. Pada saat aku menyelam, tak sengaja benda ini terinjak oleh ku,"
"menurutmu benda apa ini?" sambungnya.

"Ini hanya kalung jam, Drew. Kau terlalu mistis." kataku acuh.

"C'mon. Look, something different!"

"Save it, if we need it, someday." kataku.

Entah kenapa aku sensitif dengannya sekarang. Aku tak tau. Aku sangat dekat pada Drew. Ia juga pernah menyukaiku dulu. Tapi tak pernah berani untuk mengungkapkannya. Dia takut jika persahabatan kami akan hancur. Ah entahlah.

"aku ingin kau yang menyimpannya." katanya.

Aku berbalik. Menatap matanya yang kelabu.

Ia mengangguk pelan.

Kemudian ku ambil kalung itu dan memakainya. Supaya tidak hilang. Aku masih ingin bermain air.

Tidak terasa, matahari mulai menyerong. Tanda bahwa sore akan menjelang. Aku dan teman-temanku bergegas naik ke pantai. Mengambil anduk yang dijaga oleh ayah. Dan ayah masih tetap disini. Selama beberapa jam. Huh.

Nomor 3. Itulah nomor kamar penginapanku. Kami tidak di hotel tapi disebuah penginapan. Kamar dengan kasur pas ada tiga ranjang, satu kamar mandi dan ada balkon yang mengarah langsung ke pantai. Kuletakan semua barang-barangku di lantai, bergegas menuju kamar mandi. Kulihat, Kathy sedang membuka pintu kaca balkon yang lebar. Angin laut pun langsung memenuhi ruangan dan membuat gorden jendela berkibas.

Setelah bersih, aku mencuci muka dengan pembersih muka. Seperti krim berwarna putih tapi ada sedikit gelembung-gelembungnya. Dan harumnya harum buah-buahan. Saat melihat diriku yang hampir seperti hantu ini dikaca, tiba-tiba saja lampu mati. Pasti teman-teman. Tidak, Kathy tidak melakukannya. Adrienne. Ah memang anak itu selalu jahil.

"Heeyy. Turn on the lamp, now!" teriakku.

Tidak ada sautan. Yang terdengar hanya suara cekikikan dari Adrienne dan Kathy.

Kubuka pintu dan kutemui mereka yang sedang berada di kasur mereka masing-masing. Sedang bergurau dan bermain iPhone.

"Siapa yang mematikan lampu kamar mandi?" tanyaku.

"Bukan aku." kata Adrienne.

"Aku juga bukan." Kata Kathy.

"Adrienne?" ulangku dengan sedikit nada menuduh.

"Bukan aku, Elsie. Tanya Kathy."

"Iya, Adrienne bersamaku. Ia tidak turun dari ranjang." jelas Kathy.

Aku memandang mereka. Mereka juga memandangku. Menyadari ada sesuatu yang aneh disini. Em mungkin lampunya putus. Kulihat sakelar lampu kamar mandi. Ada yang mematikan melalui sakelar ini. Sebelumnya tidak seperti ini posisinya. Kutekan sakelar itu, lampu kamar mandi pun menyala. Bukan lampu yang putus. Seseorang pasti telah menekan sakelar ini menjadikan lampu kamar mandi menjadi mati.
Aku menunggu makan malam di kamar. Memandang pantai yang diatasnya bertabur bintang yang gemerlap. Desiran ombak memecah keheningan malam ini. Angin laut yang tak pernah berhenti menerjang gorden jendela untuk berkibas. Aku melihat layar iPhoneku. Satu pesan baru dari Drew.
           'Hey Elsie. Sedang menikmati angin pantai yang sejuk? Bisakah kau keluar ke balkon?'
Aku pun keluar menuju balkon. Dan melihat Drew beserta Egan sedang duduk di atas pasir. Saat aku melihatnya, Drew melihatku dan tersenyum. Melambaikan tangannya perlahan. Saat sedang melihatnya, ada suara yang menyita perhatianku. Aku berjalan pelan menuju asal suara. Suara itu seperti sapu-sapu yang jatuh dari ketinggian dan berdentam dengan pintu. Suara itu semakin jelas ketika aku sudah sampai di depan pintu yang berada di sebelah kaca rias. Kemudian hening. Kulangakahkan kakiku sedikit demi sedikit dan tanganku sudah menjulur untuk membuka handle pintu. Aku berhenti ketika pelayan wanita masuk ke kamarku dan tersenyum lalu mengambil kemocengnya yang tadi tertinggal. Ku abaikan dia. Dan kemudian tanganku mendarat dengan sukses di handle pintu. Ku putar kenopnya perlahan, kurasa pintu ini tidak dikunci. Aku berhitung dalam hati, 1....2....

"Don't do it!" suara itu mengagetkanku. Aku hampir saja berteriak. Tapi teriakan itu tercekat di tenggorokan.

Pelayan wanita itu sudah tepat berada di sampingku. Memegang tangan kananku yang berhasil mencapai kenop pintu. Memandangku dengan tatapan penuh dengan kekesalan. Apa aku melakukan hal yang salah?

"Don't do it, Elsie!"

"Why?" tanyaku heran.

Ia menggelengkan kepalanya, "Berbahaya." Ia memandang kalungku. Kalung jam yang diberikan oleh Drew tadi siang.

"Dari mana kau temukan itu?"

Aku memandang kalungku, "Maksudmu, ini?" aku memegang bandulnya.

"Ya, dimana kau menemukannya?"

"Entahlah, temanku yang menemukannya. Ada masalah?"

Ia menatapku aneh, dia diam. Kemudian ia mundur selangkah, "Tidak. Jaga dirimu." Ia pun keluar dari kamarku. Setelah ia mengunci pintu yang ada di depanku.

Apa maksudnya? Melarangku membuka pintu itu. Kalung. Jaga dirimu. Mengunci. Penginapan ini aneh.

Makan malam pun tiba. Kami semua turun dan menuju ke ruang makan.
Aneh. Penginapan ini sepi. Seharusnya ramai jika musim panas. Turis akan senang berada di tempat seperti ini. Dan kurasa hanya ada 3 pengunjung yang menginap disini.

Sup octopus dengan pulm kering. Iga kelinci dengan saus kacang merah. Ayam panggang yang entah diberi bumbu apa, bentuk dan aromanya tidak terlalu menggoda. Kupilih sup octopus dengan pulm kering.

Saat makan, seorang pelayan pria memandangiku sedari tadi. Aku menjadi merasa tidak enak. Memandangku dengan tatapan awas. Seakan aku adalah buronan yang sedang menikmati hidangan makan malam yang mewah dan bisa kabur kapan pun aku mau jika tidak di awasi. Datanglah pelayan perempuan di sampingnya. Ia juga melihatiku. Huh menyebalkan. Aku pun membalasnya dengan tatapan mengancam. Dan mereka pun pergi.

"Masih kau pakai?" Drew melihat kalung jam yang ia berikan padaku tadi siang.

"Ya,"
"Kau tahu pelayan wanita tadi masuk ke kamarku. Ia melarangku membuka pintu yg ada di kamarku dan bertanya tentang kalung."

"Benarkah? Apa katanya?"

"Ia menyuruhku menjaga diriku. Aku tidak mengerti apa maksudnya."

Drew diam sejenak, lalu menambahkan, "Sudahlah. Makan makananmu, nanti keburu dingin."

Baiklah. Lagi pula aku juga tidak ingin makananku cepat dingin. Ini sungguh enak jika dimakan selagi panas. Ku pandang dinding yang ada di sebelahku. Ada foto seorang pria yang dimasukan kedalam bingkai ukiran yang besar dan berlapis emas. Laki-laki dengan rambut yang sudah memutih dan hanya tinggal di belakang kepala saja. Memakai jas hitam lengkap dengan dasi. Memakai kalung. Kulihat namanya yang diberi kotak pinggirnya. Finnick Jaderthelwis. Mantan perwira tinggi yang mati dibunuh gara-gara lawannya menginginkan kalung yang ia pakai. Tapi Finnick membuangnya entah dimana, dan belum ada yang menemukan benda bersejarah itu. Katanya, kalung itu memiliki daya yang entahlah aku tidak mengerti, karena pada saat bagian itu dijelaskan dalam buku, bagian itu sobek terkena air. Makanya, para lawannya menginginkan itu darinya. Selama ini aku belum pernah melihat bagaimana kalung itu. Dia juga yang mendirikan penginapan di dekat pantai. Dan aku dengar-dengar, para lawan itu -turun temurun. Cucunya atau cicitnya sang lawan sejatinya Finnick- sedang menyari kalung itu lagi. Aku tahu kisahnya karena aku pernah membacanya di perpustakaan. Kulihat kalungnya yang sedikit tertutupi oleh jasnya. Kalung jam. Kalung yang sama. Sedang kukenakan.

Dan kami menemukannya. Dan akulah buronan.

To be continue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar